Rabu, 03 Januari 2018

7 Hari di Cikole; Lezatnya Bubur Khas Cikole


Bubur Khas Cikole (Dokumentasi Pribadi, 24/12/2017)

Namun sekarang Pasar Ahad sudah banyak perubahan, toko pakaian seperti kaos, jaket dan sweter sudah banyak ditemukan di toko-toko terdekat, bahkan  gerai ritel seperti Indomaret dan Alfamart sudah bisa dijumpai sehingga aku tidak perlu jauh-jauh ke Lembang untuk mencari kebutuhan sehari-hari.
Ditempat tinggalku (Kalimantan) suhu terendah rata-rata 240C dan tertinggi mencapai 370C, pada suhu terendah saja yakni 240C dinginnya sudah terasa menusuk tulang. Nah... tidak terbayangkan bagaimana dinginnya di Cikole dengan suhu rata-rata 16 – 170C, dinginnya bahkan serasa menjalar dalam darah, menelusuri urat-urat dan masuk ke usus kemudian menghimpit kedalam lambung. Setidaknya itulah yang kurasakan setelah merasakan dan membandingkan saat tinggal di Kalimantan dan Cikole.
Airnya luar biasa dingin seperti es batu yang baru mencair, keadaan itu memaksa aku harus perlahan-lahan beradaptasi dengan suhu udara di Cikole. diawali dari mandi dengan menggunakan air hangat sampai bersucipun menggunakan air hangat, ahaa.... terkadang kalau lagi malas merebus air bisa dua hari tidak mandi (Wkwkwkkkk.... memang jarang mandi sih....)
Saat subuh tiba, aku segera menyiapkan panci dan mengisinya dengan empat gayung air kemudian merebusnya hingga mendidih untuk pelengkap mandi. Kemudian salat subuh dan duduk-duduk di ruang tamu sambil ngobrol dengan kakak dan ibuku. Pagi itu cuaca begitu dinginnya, sehingga aku harus memakai tiga lapis baju ditambah satu sweter, ugh.... badanku sempat  menggigil walaupun sudah memakai pakaian berlapis-lapis. Berapa lapis ? ratusaaannn..... (wafer tanggo kale......)
Seorang wanita berperawakan tinggi muncul dari dalam kamarnya dan lngsung menuju keluar rumah. O... iya, tahun ini spesial banget karena ada anggota keluarga baru namanya Teteh Yanti, dia istri Kang Yanto yang membantu menyiapkan dan mengurus keperluan makan kami selama tinggal di Cikole, orangnya baik dan suka bercanda.
Tidak berapa lama Teteh Yanti datang lagi dengan membawa beberapa mangkok kemudian meletakannya di atas meja. Saat kutengok “wah..... bubur ayam !!!” jeritku histeris dengan mata terbelalak. Ada kecap ikan yang menutupi bubur, diatasnya ada daging ayam yang disuwir kemudian dilapisi taburan daun bawang segar. Nampak kepulan asap membawa aroma kelezatan menyentuh penciumanku. Tidak sabar lagi kusantaplah bubur tersebut, rasanya memang beda dari bubur yang dijual di tempat manapun yang pernah kucicipi, gurihnya pas, asinnya tidak berlebihan, ada sedikit rasa manis manambah kuatnya keseimbangan komposisi bumbu. Mmm.... rasanya jauh lebih lezat dari bubur yang dijual di tempatku walaupun penjualnya berasal dari daerah yang sama (Bandung). Alhamdulillah perut yang tadinya perih karena pengaruh suhu yang sangat dingin menjadi hangat kembali.

klik di Kompasiana

Kamis, 28 Desember 2017

Pertemuan Pertama


Dokumentasi Pribadi (Pebruari 2012)

Detik-detik keberangkatan membuat aku sedikit nirves, dag dig dug, dan berdebar-debar. Pebruari 2012 adalah pertama kalinya aku ke Lembang setelah 35 tahun tak bersua dengan sanak family. Aku berangkat bersama ibu dan kaka lelakiku beserta anak dan istrinya. Kami menumpang pesawat Lion Air dengan penerbangan sekitar pukul 1 siang. Saat memasuki pesawat lion air ada rasa was-was dan takut, namun hati ini terus berdoa memohon kepada Allah agar perjalanan kami diberi keselamatan.
Pesawatpun mulai meninggalkan landasan, perut mulai terasa geli dan terkadang ada rasa ingin muntah, "aduhhh... malu banget rasanya kalau aku sampai muntah, dasar orang kampung" gumamku dalam hati. Alhasil perjalanan 1, 45 jam harus berusaha menahan isi perut agar tidak keluar, dan ternyata hal itu juga terjadi dengan ibu. Dibelakangku, kulihat tidak sedikit penumpang yang tidur pulas, bahkan dibelakangku seorang bapak-bapak menyandarkan kepalanya sambil menengadah, mulutnya terbuka, sesekali terdengar suara ngorok. Bu, coba lihat, banyak orang pada tidur, tapi kita gelisah bisikku pada ibu. Ibu hanya bisa tersenyum simpul, sesekali keluar kalimat zikir dibibir beliau, mukanya terlihat pucat karena menahan isi perut yang terus menggeliat-geliat seperti cacing sedang mabuk (emang pernah melihat cacing mabuk) hihiii...
Bleg.... tiba-tiba pesawat terhentak, sedikit menurun kemudian naik lagi. Glebek....glebekkk.... astagfirullahalazim, ada apa dengan pesawat ini, aku semakin khawatir, perutpun terasa diikat dengan tali tambang dan ditarik kencang. Tidak jarang penumpang lain  mengamati kami, mungkin heran melihat tingkah laku kami yang diluar dari kebiasaan, aku yakin pasti ada yang berucap dalam hati "dasar orang kampung, nggak pernah naik pesawat"
"Ckkcckckckckckkkkk......emang betul" sahutku dalam hati juga, hihii....
Akhirnya pesawatpun mendarat di Bandara Soekarno Hatta, tak lupa kuucapkan syukur atas kelancaran perjalanan ini. Kemudian kami menelusuri jalan keluar bandara. Aku berdiri sambil mengamati dan mencari orang yang sudah menunggu kami, dia adalah saudara sepupuku, Kang Yanto. Aku sempat bolak balik karena tidak menemukan dia. Saat aku membalikan badan tiba-tiba ada orang yang menepuk bahuku, aku tidak perduli, aku hanya mengamati dengan gerakan bola mata saja, dan hanya melihat bagian kakinya saja sementara wajahnya kuabaikan, karena aku takut dia orang yang berniat jahat pada kami. Kuhidupkan ponsel dan berusaha menghubungi Kang Yanto, namun sekali lagi ada orang yang menepuk bahuku, akhirnya aku berpaling, kuamati dari ujung kaki sampai ujung rambut, kemudian kuamati wajahnya, dia tersenyum.
" Mas Arifin, ya?
"Kang Yanto !!",
Kami pun berpelukan erat, sambil berjingkrak-jingkrak kesenangan seperti anak-anak yang baru menemukan mainan yang telah lama hilang. Pantas saja orang-orang disekitar melongo melihat kelakuan kami.
Ibu sempat bertanya, tidak pernah bertemu tapi kok bisa tau dan kenal. Aku menjelaskan pada ibu bahwa sebelum berangkat kami sudah berkomunikasi lewat telepon dan media sosial, sehingga sudah punya gambaran siapa Kang Yanto, dan demikian pula dengan Kang Yanto, tidak terlalu susah untuk mengenali aku, buktinya dia yang menyapa aku duluan. Hanya dengan suara dan model tubuh sudah bisa ditebak, oh...oh....siapa dia.
Hhhhh.......Perjalanan yang aneh :)
Perjalanan kami lanjutkan dari Bandara meluncur ke lembang dengan menumpang mobil AVP, perjalanan ke lembang cukup lama sekitar 3 hingga 4 jam, udara sangat panas dan terasa gerah namun masih panas di Kalimantan kalau dibandingkan  dengan Jakarta. Sepanjang perjalanan kami ngobrol tidak putus-putusnya agar lebih mengenal dengan satu sama lain dan untuk menambah keakraban, bahkan Kang Yanto sempat menunjukkan tempat dimana dulu keluarga seorang artis yang mengalami kecelakaan saat kami melewati tol Cipularang. Kami saling bertukar cerita, aku menceritakan bagaimana kondisi Kalimantan yang panas hingga 37 derajat, hutan yang dipenuhi pohon-pohon tropis, sedikitnya lahan pegunungan yang masih alami karena pengambilan batu baranya, lahan gambut yang sering terbakar, kuliner hingga tempat wisata dan arung jeram dengan lanting yang terbuat dari rakitan batang bambu di sungai Loksado. Sayangnya di Kalimantan tempat wisata tidak terawat dengan baik.
Pinggang mulai terasa pedih, pantat sudah kesemutan, kaki sampai pada puncak kepenatan, baru ingat perut belum diisi dengan makanan. Akhirnya kami singgah ditempat pertokoan, saat keluar dari mobil, kami rame-rame menuju toilet, aku sampai tertawa geli, ke toilet aja kok berjamaah, wkwkwkkk........, rupanya dari tadi tidak hanya aku yang menahan kantong kencing yang sudah terasa penuh dengan air seni. Tidak jauh dari toilet banyak orang yang sedang berjualan, ada yang jualan popcorn, ada kedai kopi dan bermacasm kue ringan cukup untuk mengganjal perut yang sudah terasa menggigit.
Setelah puas, kami melanjutkan perjalanan. Perlahan sinar matahari meredup, suasana mulai gelap, lampu-lampu jalan juga menyala. Ssss.....udara dingin mulai merembet memasuki celah-celah pakaian, aroma kesejukan mulai kurasakan, tak terasa perjalanan sekitar 4 hingga 5 jam terasa bagaikan mimpi.
Sekitar pukul 8 malam lebih sedikit kami tiba ditujuan, untuk menuju rumah Kang Yanto kami harus menyusuri gang sempit dan berbelok, kiri kanannya rumah penduduk yang saling berjejer, semakin kedalam gang suasana semakin gelap, jarang sekali penduduk yang menyalakan lampu di luar rumah untuk menerangi jalan, hingga aku menyalakan ponsel hanya untuk mendapatkan cahaya agar tidak salah melangkah, walaupun cahaya sedikit samar namun cukup membantuku untuk menyusuri gang kecil. Tiba di ujung gang, terdapat sebuah rumah kecil dan mungil, dari luar terlihat sinar lampu listrik menyelinap dinding rumah, sepertinya dia mengintip kedatangan kami.
Kang Yanto mengucapkan salam, perlahan-lahan pintu terbuka dari dalam dan terdengar suara sayup menjawab salam. Aku juga masuk dan mengucapkan salam, ternyata di dalam rumah sudah banyak yang menunggu. Teteh Aisyah, Kang Abdullah, Cepi, Tuty dan suaminya. Aku menyalami satu persatu.
"Mamang, ya ?"
"Si bungsu ?"
Tidak lain lagi, orang pertama kali kusalami adalah mamang Masna, adik kandung Ibuku. Kukenali dari suaranya, karena aku sering berkomunikasi lewat telepon dengan beliau, selain itu beliau selalu memanggilku dengan sebutan si bungsu. Mamang dengan kondisinya yang sudah mulai tua, beliau tidak dapat melihat dengan sempurna karena ada kelainan pada matanya sejak lahir.
Satu persatu kusalami, dan bagiku mereka sudah tidak asing lagi, karena teknologi sekarang telah menjembatani hubungan kami hingga pada saat bertemu langsung terasa begitu dekat dan sangat terasa aroma kekeluargaan.
Aku duduk di lantai berjejer dengan yang lain, tidak berapa lama terdengar suara lirih Ibu mengucapkan salam.
"Assalaamu'alaikum"
"Wa'alaikum salam"
"Masna !!!"
Mamang langsung berdiri dan memegang tangan ibu, merekapun berpelukan.
"Ece,,,,, ece,,,,,," gumam Mamang yang sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Suara tangispun pecah, Mamang terus memeluk Ibuku dengan erat seolah tidak ingin berpisah lagi, situasi begitu mengharukan, hingga suasana dipenuhi guyuran air mata kebahagiaan. Ahh... betapa bahagianya, pertemuan Kakak dan adik kandung setelah 35 tahun terpisah. Oh.....Tuhan,  jadikan pertemuan ini berkah bagi keluarga kami, Aamiin....


klik di : kompasiana